Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Mengenang sang Guru Mulia bagian 4

Gambar
Di pondok Ngunut saya termasuk salah satu santri yang gemar menulis khat (kaligrafi) bersama kang Tamami Hm, Maskur, Buyamin, bersama guru kaligrafi ternama di pondok itu yakni Ustadz Fauzan dari Nganjuk....sebenarnya tulisanku tidak sehebat temen2 khatat yang lain, tetapi karena oleh temen sekelas "menganggap" tulisanku rapi maka aku tergerak untuk diajak mendalami khat pada guru Ustadz Fauzan di PP Riyadlatul 'Uqul Dsn Bandungsari, Ds. Bandung Kecamatan Gringging Nganjuk. Waktu itu menjelang puasa, jadi kami "pasan kaligrafi" bukan kitab Ada anak tiga yang berangkat, saya kang Mundzir dari Sumberejo Kulon dan kang Mas'ud dari Blitar... Sebelum berangkat kami berpamitan dulu kepada Hadratus Syeikh, karena kecilnya nyali kami tidak berani sowan resmi di dalem, tetapi kami bertiga menunggu di masjid selepas sholat ashar berjamaah, kemudian setelah beliau selesai wiridan dan beranjak pergi ke dalem sesegera kami menghadangnya untuk berciuman tangan, seraya ...

Mengenang Guru Mulia bagian 3

Masih dalam rangka Haul Almaghfurlah KH. Ali Shodiq Umman. Menjadi seorang tokoh panutan adalah tugas yang berat bagi seorang manusia. Karena apapun yang di lakukan menjadi tolak ukur dari sebuah hukum agama apakah di perbolehkan apa tidak. Masyarakat lebih senang melihat apa yang di lakukan para sholihin, dan menganggap hal itu sebagai sebuah perbuatan yang bersumber dari dalam agama. Minat baca mereka lemah, sehingga apapun yang beliau lakukan meski harus sangat- sangat hati, biar tidak menimbulkan tafsir yang macam-macam di masyarakat yang sangat plural di daerah situ. Pernah pada waktu itu menurut cerita yang berkembang, di saat masyarakat kesulitan ekonomi dan perjudian merajalela, SDSB (baca: perjudian halal ala pemerintah pada saat itu) sedang marak, ada orang dari kalangan abangan sowan dan menanyakan “nomor judi” yang jitu pasti keluar pada undian. Maka beliau ghodob (baca: marah besar) dan menyuruh pulang orang tersebut. Tapi justru marah beliau di tafsiri dengan “nomo...

Mengenang Sang Guru Mulia II

Tidak ada habisnya membaca sejarah hidup beliau, guru kita KH. Ali Shodiq Umman, muassis Pondok Ngunut Tulungagung. Karena beliau adalah tokoh karismatik yang pernah terlahir di sebuah desa yang sekarang menjadi kecamatan, yang sangat “wingit” kala itu. Dengan masyarakat yang hampir semua abangan, yang gemar berjudi dan adu ayam, sekarang menjadi masyarakat yang nampak sekali syiar Islam telah berkembang pesat di Ngunut. Hal ini di tandai dengan semakin berkembangnya Pondok Ngunut mulai dari yang murni salafi sampai yang menyelenggarakan sekolah formal. Dan yang terbaru, Pondok Ngunut sudah menancapkan pondasi keislaman dengan didirikan Pondok Pesantren Sunan Kalijaga yang berada di luar wilayah Ngunut. Perkembangan Pesantren ini tentunya tidak lepas dari tangan lembut Sang Guru Mulia yang sangat lembut dalam berdakwah dan menjunjung tinggi akhlaqul karimah. Saya menyaksikan sendiri bagaimana beliau mencontohkan kepribadian muslim yang mulia itu, seperti kebiasaan beliau menyapa w...

Mengenang Sang Guru Mulia II

Rasanya tidak ada habisnya menceritakan tokoh karismatik di Tulungagung ini. Karena beliau