Mengenang Sang Guru Mulia II
Tidak ada habisnya membaca sejarah hidup beliau, guru kita
KH. Ali Shodiq Umman, muassis Pondok Ngunut Tulungagung. Karena beliau adalah
tokoh karismatik yang pernah terlahir di sebuah desa yang sekarang menjadi
kecamatan, yang sangat “wingit” kala itu. Dengan masyarakat yang hampir semua
abangan, yang gemar berjudi dan adu ayam, sekarang menjadi masyarakat yang nampak
sekali syiar Islam telah berkembang pesat di Ngunut. Hal ini di tandai dengan
semakin berkembangnya Pondok Ngunut mulai dari yang murni salafi sampai yang
menyelenggarakan sekolah formal. Dan yang terbaru, Pondok Ngunut sudah
menancapkan pondasi keislaman dengan didirikan Pondok Pesantren Sunan Kalijaga
yang berada di luar wilayah Ngunut.
Perkembangan Pesantren ini tentunya tidak lepas dari tangan
lembut Sang Guru Mulia yang sangat lembut dalam berdakwah dan menjunjung tinggi
akhlaqul karimah. Saya menyaksikan sendiri bagaimana beliau mencontohkan
kepribadian muslim yang mulia itu, seperti kebiasaan beliau menyapa warga
masyarakat. Ketika beliau hendak bepergian dengan mengendarai sepeda atau motor
dan berpapasan dengan tetangganya maka beliau berhenti dulu, turun dari
kendaraan kemudian menyapa dengan santun, dan mengobrol ringan tanda
penghormatan kepada orang yang di temui.
Kelembutan dakwah beliau tidak saja di rasakan langsung oleh
masyarakat tetapi oleh santri yang mengenyam pendidikan di pesantren itu,
seperti jika beliau memanggil santri dengan kata “co” yang berupa penggalan
kata “konco” yang bermakna sahabat. Ini persis dengan akhlak Rasulullah saw
yang menganggap murid-murid beliau sebagai sahabat. Padahal para sahabat di
masa Rasulullah menjadi istilah murid di masa pendidikan yang
bergeser menjadi klasikal seperti sekarang. Beliau begitu mencintai
santri-santrinya. Tiada lelah untuk memberikan wejangan, pitutur yang di
selipkan melalui kajian yang beliau lakukan di setiap waktu pagi, dan jam-jam
mengaji lainya.
Bahkan pernah suatu waktu, ketika itu kami sudah siap di ndalem
untuk mengikuti pengajian rutin ba’da sholat shubuh. Kitab yang di kaji
adalah Sirojuth Tholibin, karya guru beliau tidak absen untuk selalu di baca,
selain kitab Ihya’ Ulumuddin karya monumental Imam Ghozali yang wafat tahun
1111. Pagi itu ada yang tidak biasa, karena kabarnya beliau menjelang shubuh
baru saja pulang menghadiri acara pernikahan santrinya di daerah Jawa Tengah.
Nampak sekali rasa lelah dan kantuk pada diri beliau.
Sampai-sampai beliat tidak terasa tertidur dalam kondisi duduk
di bangku untuk mengaji. Setelah sadar, beliau memanggil salah satu santri yang
ikut di ndalem untuk memijat kakinya. Namun nampaknya pijatan seperti biasa
tidak mampu menghilangkan rasa penat dan kantuk itu, maka beliau menyuruh lebih
kuat lagi pijatanya, sampai kami melihat ada rasa kesakitan pada wajah
mulianya. Tetapi ternyata rasa kantuk
yang begitu “pekat” sehingga belaiu tertidur kembali. Setalah sadar beliau
panggil k mengambilkan balsam. Kemudian yang beliau lakukan adalah memberikan
balsam di mata beliau dengan harapan bisa terjaga dan melanjutkan pengajian. Sehingga
mata beliau menjadi terjaga dan bisa melanjutkan pengajian meski agak
tersendat. Karena mata yang terbalsam tentu akan sering berkedip.
Subhanallah, sedemikian dahsyat beliau untuk melawan nafsunya
yang di rasa mulai manja dengan aktifitas yang di lakukan sebelumnya. Dalam benakku
sering berfikir, sedemikian kuatnya semangat beliau, padahal kebiasaan kita sebagai
santri, jangankan kita sekantuk itu, kita yang sebelumnya tidak kantuk saja,
ketika mulai mengaji atau membaca buku langsung tertidur. Tetapi hari itu kita para santri di demonstrasikan dengan
bagaimana seharusnya nafsu di letakkan, sehingga nafsu benar-benar menjadi
kendaraan, bukan kita yang dikendarai oleh nafsu.
Sumberejo Kulon, 9 Pebruari 2016
Lima hari menjelang
Haul Al Maghfurlah KH. Ali Shoddiq Umman
Lahul Fatihah.......
Komentar
Posting Komentar