Aku adalah Penulis
Dunia tulis menulis sebenarnya telah lama aku geluti. Bukan
saja semenjak ngajar di STAI Diponegoro ini saja bahkan saya awali ketika masih
di pondok Ngunut kala itu. Tapi dunia literasi yang aku maksud adalah menulis
kaligrafi Islam. Kaligrafi berasal dari bahasa yunani, yakni callios dan
graph yang artinya menulis indah. Dalam bahasa Arab kaligrafi di kenal
dengan sebutan khat yang berarti garis. Penulisnya di sebut khattat. Dalam
bahasa Indonesia di kenal kata khatulistiwa berasal dari kata khat
artinya garis dan istiwa’ artinya lurus. Maka khatulistiwa diartikan
sebagai garis imajiner yang membelah bumi menjadi dua yakni utara dan selatan.
Meskipun berbeda dengan literasi buku, tetapi menulis khat Arab
tidak kalah nikmatnya. Apalagi jika media tulis kita adalah masjid besar di kota
maupun kecamatan yang semakin banyak orang yang menikmatinya. Tetapi apakah
semua orang bisa merasakan dahsyatnya sebuah tulisan, tentu tidak semudah itu. Dalam
dunia ilmu tasawuf ada pepatah mengatakan “la ya’lamul waliya illal waliyyu”
tidaklah mengetahui wali kecuali
seorang wali. Hal ini relevan jika di kaitkan dengan pepatah diatas. Karena yang
dapat menikmati kaligrafi itu adalah orang yang memahami ilmu tersebut.
Sebagaimana penulis Bagi penulis kaligrafi menikmati suara
deritan kalam yang berjalan diatas kertas itu sebuah kenikmatan tersendiri. Apalagi
menemukan sebuah komposisi tulisan yang pas dengan proporsi peletakan huruf dan
kaedahnya. Maka tidak heran jika ada seorang khathtat mengatakan bahwa
kaligrafi itu adalah tulisan indah seperti awan yang berarak-arak dan perkasa seperti
naga yang marah. Dan siapa yang dapat memahami ini, ya tentu para wali khat
tadi. He he he .....
Tetapi memang ada yang berbeda antara literasi dan khat,
yakni khat lebih fokus pada penulisan ayat-ayat al Qur’an dan do’a/hadits yang ma’tsur
dari Rasululloh. Serta media tulisnya seringkali masjid atau tempat peribadatan
lain berupa mushola atau ruangan yang di modifikasi sebagai mushola. Dan ini
menjadi nilai lebih dalam rangka bertaqarrub kepada sang Pencipta keindahan
sambil menulis kita melafalkan tulisanya saja sudah baca kalamulloh. Dan
jika di masjid kita dapat sambil niatkan iktikaf meskipun tidak harus duduk
bersila, memutar tasbih sambil terpekur.
Alhasil, meskipun saya lama di menulis kaligrafi, tetapi
dunia literasi juga telah lama saya mulai. Tetapi memang tidak terlalu di bisa
fokus di situ karena alasan yang sama dengan teman-teman bagi penulis pemula,
yakni kesibukan yang tidak ketulungan. Karena di dunia kaligrafi ini sedikit
peminatnya tetapi banyak lahan yang belum tersentuh oleh tangan-tangan orang
yang gemulai yang pandai memainkan kalam dan kuas. Terlebih lagi di seni
kaligrafi ini serta prkatis karena setelah selesai karya akan ada “penghargaan”
yang di terima. Nah... I.T.U ( istilah mas Naim )
Sanggar Kaligrafi Komar elKhat
Jum’at, 05 Juni 2020

Mantab, lanjutkan...
BalasHapusWah saya bisa pesen khat pak dosen... Heheh
BalasHapusLiterasi baru mas, join
BalasHapusKeahlian yang langka pak...
BalasHapusSubhanalloh... Mantap pak...
BalasHapusMasya Alloh Guuus... Kreatif... Tulisanyajiaan mannntabe'
BalasHapus