Kesenjangan Kaligrafi dan lombanya
Hampir setiap tahun, sanggar kami selalu di datangi seorang
guru Agama Islam SD Negeri di kecamatan sebelah. Dia meminta untuk dibuatkan
desain kaligrafi yang akan dilombakan di tingkat SD di kecamatan tersebut.
Sambil menunggu desain yang saya kerjakan, dia selalu bercerita bahwa desain
yang saya buatkan untuk anak-anak kemarin mendapatkan nomor satu tingkat
kecamatan. Dan setiap datang selalu bercerita tentang kemenangan anak-anak
dengan menggunakan desain yang saya buat. Dan itu berlangsung sampai 5 tahunan
sebelum akhirnya beliau di pindah di kecamatan lain. Jadi dengan sentuhan
desain saya sederhana yang saya sesuaikan dengan kemampuan anak setingkat SD
itu mendapatkan penilaian yang luar biasa dari para jurinya.
Saya mencoba mengorek keterangan bagaimana bisa hal itu
terjadi, sementara beliau tidak punya basic pesantren apalagi pengetahuan
tentang khat. Ternyata sangat sederhana tekniknya, yakni desain dari saya di
pasang di papan tulis. Anak yang telah terseleksi sebelumnya di suruh untuk
meduplikasi desain saya sepersis mungkin. Ya, cuma itu. Dan menang. Luar
biasa.Ini artinya apa? Bahwa banyak lomba kaligrafi di selenggarakan di semua
tingkatan, akan tetapi tidak di barengi dengan pembelajaran yang memadai.
Sehingga ketika ada tulisan kaligrafi yang mendapatkan polesan meskipun cuma
simpel saja bisa mengalahkan peserta yang lain.
Inilah yang penting untuk kita cermati, bahwa tidak semua
orang bisa mengerti dan menguasai ilmu khat ini dengan baik dan benar sekalipun
dia guru agama Islam atau ustadz di madrasah baik formal maupun non formal. Padahal
banyak even-even perlombaan kaligrafi yang di selenggarakan oleh pemerintah, sekolah
formal maupun ormas-ormas yang ada. Lomba ini selalu ada setiap tahunan
menjelang hari-hari besar atau memang yang sudah terjadwal mulai tingkat
kecamatan sampai nasional, seperti MTQ, Aksioma, Porsadin, FASI dan lain
sebagainya. Belum lagi even-even lomba untuk kelas profesional yang tersebar
sampai tingkat internasional.
Hal ini menunjukkan bahwa lahan untuk unjuk kreasi begitu
terbuka luas dan tidak diimbangi dengan pertumbuhan seni yang berbasis keislaman
ini. Di pesantrenpun secara resmi tidak diajarkan ilmu ini, biasanya santri
belajar otodidak melalui buku maupun diskusi dengan seniornya. Di sekolah formal yang berbassis keislaman sendiri
juga tidak menyiapkan tenaga pendidik yang menguasai ilmu khat ini. Sehingga seorang
guru yang menguasai ilmu ini akan banyak di pinang oleh sekolah
formal untuk mengajar di lembagannya. Karena
lembaga di tuntut untuk mengirimkan peserta lomba pada even keagamaan sementara
dukungan terhadap perkembangan kaligrafi tidak diapresiasi dengan baik.
Kesenjangan ini kayaknya akan berlangsung lama jika memang
kita yang menjadi praktisi pendidikan tidak ikut ambil bagian dalam menumbuh
kembangkan seni ini. Akan terus di dapati anak yang punya bakat tidak tersalurkan
dengan benar. Ada juga juri yang kesulitan menentukan penilaian karena hasil karya
lomba anak-anak berbasis lukisan tanpa di barengi kaedah penulisan yang benar. Benar
saja KH Abdur Rozzaq Muhilly Tangerang yang penulis juga bersanad kepada beliau,
menghukumi makruh menulis al Qur’an dengan tulisan yang jelek tidak beraturan. Hal
itu menunjukkan bahwa ilmu khat ini tidak kalah pentingnya dengan yang lain.
Komar elKhat, 09 Juni 2020

ahlinya ahli...
BalasHapuspembelajar meskipun lambah.... hehhehe
HapusSepertinya,. Ada kemiripan antara khottot dengan dokter,. Sama² membutuhkan kestabilan tangan,. Lekne buyuten, repot... 😁
BalasHapushehehe....
HapusLek nyontik kok sampek buyuten iso kenek irung mas.....
hehe