Alim yang Amil (Keteladanan dari KH Ali Shodiq Umman)






Alim yang Amil
Keteladanan dari KH Ali Shodiq Umman

Penyematan gelar alim atau ulama tidak dapat dilakukan secara serampangan, tanpa ada rujukan tentang keluasan ilmu serta kehalusan budi perkerti, apalagi hanya untuk kepentingan sesaat. Nabi Muhammad SAW memberikan kedudukan mulia bagi orang yang mempunyai ilmu, yakni dengan penyebutan:  al-‘ulama waratsatul anbiya’, ulama merupakan pewaris para Nabi. Warisan Nabi tidak hanya ilmu agama, tetapi juga keistimewaan dan akhlak mulia terhadap sesama makhluk Allah di muka bumi.

Seorang alim akan lebih sempurna jika di barengi dengan mengamalkan ilmunya. Jadi tidak saja alim tetapi juga ‘amil, artinya berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjalankan ilmunya. Sosok KH Ali Shodiq uman sang muassis PPHM Ngunut adalah tepat untuk menggambarkan bagaimana beliau mampu menyelaraskan antara ilmu dan amal. Meskipun hal ini agaknya sulit dilakukan oleh kebanyakan orang. 

Dalam hal cinta ilmu misalnya, beliau sering mensitir sebuah haditsمَنْ عَمِلَ بِمَا يَعْلَمْ وَرَّثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لمَ ْيَعْلَمْ) Barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya maka Allah akan mewariskan untuknya ilmu yang belum diketahuinya. Hadits ini sering disampaikan oleh KH. Mahrus Maryani dalam beberapa kesempatan. Dalam  hal kecintaan beliau dengan ilmu ada satu cerita yang penulis alami sendiri ketika nyntri disana. Pada suatu saat beliau sedang pulang dari sebuah perjalanan jauh di daerah Jawa Tengah, dimana beliau. Bahkan pernah suatu waktu, ketika itu kami sudah siap di ndalem untuk mengikuti pengajian rutin ba’da sholat shubuh. Kitab yang di kaji adalah Sirojuth Tholibin, karya guru beliau tidak absen untuk selalu di baca, selain kitab Ihya’ Ulumuddin karya monumental Imam Ghozali. Pagi itu ada yang tidak biasa, karena kabarnya beliau menjelang shubuh baru saja pulang menghadiri acara pernikahan santrinya di daerah Jawa Tengah. Nampak sekali rasa lelah dan kantuk pada diri beliau.

Sampai-sampai tidak terasa tertidur dalam kondisi duduk di bangku tempat membacakan kitab. Setelah sadar, beliau memanggil salah satu cantriknya, kang Shokib namanya, untuk memijati kakinya agar berkurang rasa kantuk itu. Namun nampaknya pijatan seperti biasa tidak mampu menghilangkan rasa penat dan kantuk itu, maka beliau menyuruh lebih kuat lagi pijatanya, sampai kami melihat ada rasa kesakitan pada wajah mulianya.  Tetapi ternyata rasa kantuk yang begitu “pekat” sehingga beliau kembali tertelap. Setalah sadar beliau minta diambilkan balsam, obat yang biasa digunakan untuk penghangat badan. Balsam adalah obat gosok yang dioleskan untuk kulit dengan bentuk semi padat.. Penggunaan balsam akan menimbulkan rasa panas pada otot, menyebabkan relaksasi dan menstimulasi aliran darah sehingga rasa sakit akan berkurang. Tetapi balsam itu bukan digunakan untuk badanya tetapi justru di olehkan di sekitar mata beliau dengan harapan bisa terjaga dan melanjutkan pengajian. Tentu rasanya sangat luar biasa panasnya, sampai mata harus terus berkedip karena hawa panas yang dihasilkan. Dengan demikian mata beliau menjadi terus terjaga dan bisa melanjutkan pengajian meski agak tersendat. Karena mata yang terbalsam tentu akan sering berkedip.

Subhanallah, sedemikian dahsyat usaha beliau untuk melawan nafsunya yang di rasa mulai manja dengan aktifitas yang di lakukan sebelumnya. Dalam benakku sering berfikir, sedemikian kuatnya semangat beliau, padahal kebiasaan kita sebagai santri, jangankan kita sekantuk itu, kita yang sebelumnya tidak kantuk saja, ketika mulai mengaji atau membaca buku langsung tertidur.  Tetapi hari itu  kita para santri di demonstrasikan dengan bagaimana seharusnya nafsu di letakkan, sehingga nafsu benar-benar menjadi kendaraan, bukan kita yang dikendarai oleh nafsu.

Selain cinta ilmu, beliau juga sangat hormat ahli imu dan juga guru dan keluarganya. Bahkan kepada santrinya yang menjadi guru putra-putra beliau pun akan di perhatikan melebihi yang lain. Pernah suatu saat ketika beliau ‘uzlah di pesantren thoriqoh di Pondok Pesulukan Baran Mojo Kediri asuhan KH Umar Sufyan yang juga mertuanya sendiri. Ada salah satu santri yang ikut nderekne selama di sana, yakni kang Supri. Suatu saat ketika di sana, beliau mendapatkan undangan untuk menghadiri Haflah Akhirussanah di PP Al Falah Ploso Mojo Kediri yang tidak jauh dari rumah mertuanya. Berangkatlah dengan di gandeng kang Supri menuju ke Ploso dengan menggunakan motor KH. Basthomi yang di pinjamkan kepadanya. Karena berangkatnya setelah tawajjuhan sholat Isya’ maka sampai sana sudah penuh sesak dengan warga yang hadir. Motor tidak bisa mendekat dan di parkir agak jauh dari lokasi. Setelah motor di parkir dan tak lupa di kunci stang, kang Supri mulai berjalan memapah beliau untuk sampai ke lokasi acara. Di sepanjang jalan banyak orang yang sungkem dengan beliau karena ke’alimanya sudah di kenal di kalangan santri.

Sampai di sana di sambutlah oleh Gus Din, (KH, Zainuddin Jazuli yang tak lain  adalah putra dari kyai Jazuli seorang alim pendiri pondok Al Falah Ploso).  Saking ta’dzimnya beliau dengan keluarga orang ‘alim. Maka ketika bersalamanpun nampak pemandangan yang indah dimana keduanya saling berebut ingin mencium tangan dan saling berusaha menghindar.. Akhlak mulia beliau nampak juga dalam jamuan makan, mbah Yai sesegera mengambilkan makanan untuk Gus Din demikian juga ketika juga sebaliknya.. Padahal yang makanan diambilkan untuk mbah yai tidak yang diinginkan karena mbahyai ngrowot atau tidak makan nasi. Demikian indah akhlaq para orang-orang yang sholeh. Setelah acara selesai beliau pulang, ketika pulang itu terjadi keanehan yakni, motor yang tadinya di parkir di tempat yang agak jauh ternyata sudah berada tidak jauh dari dari tempat keluar dari pondok. Dan lucunya motor tersebut masih dalam kondisi terkunci stang, entah apakah santri-santri yang disuruh mengangkat untuk di dekatkan di lokasi pondok. Sebauh pemandangan yang luar biasa, sayangnya tidak ada dokumen yang semudah sekarang dalam mengabadikan sebuah momen. Jika ada mungkin bisa viral dimana-mana.

Ilmu itu ibarat pelita yang menerangi jalan orang di kegelapan, akan tetapi pelita itu juga tidak berguna jika orang tersebut tidak tergerak untuk berjalan. Karena perjalanan itu adalah sebuah proses untuk mencapai maqosidnya, yakni taqorrub kepada Allah swt. Beliau amat banyak memberikan contoh kepada para santri-santrinya. Misalnya dalam menjaga sholat dengan tetap berjamaah. Sering kali ketika dia tidak kebagian jama’ah maka dicarinya santri yang belum sholat untuk di ajak berjamaah dengan beliau. Hal ini luar biasa, karena menganggap santri sebagai sahabat, sebagaimana Rasulullah memperlakukan para santri-santrinya.

Demikian sekelumit kisah orang-orang sholeh dalam kealiman serta keseriusan mereka mengamalkan ilmuny. Artikel ini di tulis menjelang Haul al Maghfurlah KH Ali Shodiq Umman pendiri Pondok Ngunut ke XI tanggal 29 Desember 2020 dan di muat di Majalah Madani Pondok Ngunut, Semoga kita mendapatkan barokah ilmunya, semangat serta keteladanan beliau dalam mengamalkannya. Amin

Di edit kembali di sanggar seni Kaligrafi Komar elKhat
Ahad, 07 Juni 2020

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku adalah Penulis

Mengenang Guru Mulia bagian 3