Mengenang Guru Mulia bagian 3

Masih dalam rangka Haul Almaghfurlah KH. Ali Shodiq Umman. Menjadi seorang tokoh panutan adalah tugas yang berat bagi seorang manusia. Karena apapun yang di lakukan menjadi tolak ukur dari sebuah hukum agama apakah di perbolehkan apa tidak. Masyarakat lebih senang melihat apa yang di lakukan para sholihin, dan menganggap hal itu sebagai sebuah perbuatan yang bersumber dari dalam agama. Minat baca mereka lemah, sehingga apapun yang beliau lakukan meski harus sangat- sangat hati, biar tidak menimbulkan tafsir yang macam-macam di masyarakat yang sangat plural di daerah situ. Pernah pada waktu itu menurut cerita yang berkembang, di saat masyarakat kesulitan ekonomi dan perjudian merajalela, SDSB (baca: perjudian halal ala pemerintah pada saat itu) sedang marak, ada orang dari kalangan abangan sowan dan menanyakan “nomor judi” yang jitu pasti keluar pada undian. Maka beliau ghodob (baca: marah besar) dan menyuruh pulang orang tersebut. Tapi justru marah beliau di tafsiri dengan “nomor undian”, dan ternyata pada saat undian keluar nomor tersebut. Memang begitu berat menghadapi masyarakat yang majemuk itu. Sehingga timbul dalam benak beliau untuk merubah kebiasaan masyarakat yang jelek tersebut. Sampai pada suatu masa, tiba-tiba pada suatu pagi selepas pengajian pagi ada bel berbunyi yang tidak biasanya. Ternyata semua santri berkumpul di “ndalem” meskipun mereka bertanya-tanya apa dan kenapa kami dikumpulkan. Setelah kumpul, Kak Huda, putra sulung beliau yang waktu itu aktifis mahasiswa di Tulungagung menghimbau santri-santri untuk ke kota Tulungagung guna demonstrasi penolakan SDSB. Tampak dari pidato panjang kak Huda yang berapi-api itu nampaknya tidak membangkitkan semangat santri, justru banyak yang bengong dan tidak mengerti apa yang meski mereka lakukan. Apa itu demo, kesana naik apa dan lain sebagainya. Mengerti santri-santri nampak galau, akhirnya microfon diambil alih mbah Yai Ali, dengan dawuh sedikit saja, “ wis co saiki kabeh sampeyan budal ke Tulunagung”. Dengan karismanya yang luar biasa semua santri bubar dan langsung berangkat. Banyak yang tidak ganti baju, dan tidak sempat ambil sandal atau sangu di kamar. Semua sam’an wa tha’atan berangkat dengan mecegat semua kendaraan yang bisa di tumpangi gratis sampai ke kota. Demikian karisma yang luar biasa pada diri beliau, kenapa hal itu terjadi karena hubungan batin dengan santri sudah di bangun sejak lama oleh Sang Guru Mulia. Dengan senatiasa bermunajat kepada Allah swt melalui sholat malam dan minta do’a kepada orang sholeh yang datang ke pondok untuk minta di doakan agar santri-santrinya kelak menjadi orang yang berguna. Sudah seharunyalah sebagai guru meniru apa yang dilakukan oleh beliau. Sumberejo Kulon, 11 Pebruari 2016 3 hari menjelang HAUL ke XI Lahul Fatihah..........................

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku adalah Penulis