Bung Karno dan KH Hasyim Asy’ari



Di bulan istimewa bagi negeriku ini ada yang berbeda mulut gang di mana kami bersama beberapa keluarga bertempat tinggal. Kali dengan begitu semangat mereka mau di ajak untuk patungan demi menghiasi mulut gang yang biasanya hanya di pasangi bendera dan umbul-umbul saja.
Gapura, itulah yang dijadikan obyek hiasan di mulut gang yang meski kecil banyak keluar masuk truk dan mobil yang masuk ke gang itu. Karena memang ada beberap yang menjadi sopir truck dan banyak petani ikan gurami, sehingga jika panen juga melewati gang kami.
Yang tidak kalah menariknya adalah gambar di antara tokoh yang di pilih untuk di pasang di banner. Yakni Ir. Soekarno dan KH. Hasyim Asy’ari. Hal ini tidak biasa ada yang menyandingkan kedua tokoh ini di dalam satu frame. Bagi yang mendesain tentu punya “udang di balik rempeyek “nya.
Kedua tokoh itu begitu sangat fenomenal, karena kontribusinya yang luar biasa di negeri ini. Yang satu terkenal sebagai founding father’s Indonesia , bapak Proklamator. Sedangkan satunya mampu menggerakkan kekuatan besar ketika perang NICA yang membonceng pasukan perang Inggris yang mereka prediksi Cuma tiga hari tapi ternyata berlangsung sampai 22 hari karena seruan resolusi jihad yang di suarakan oleh KH Hasyim Asy’ari.
Selain itu KH. Hasyim adalah guru spiritual dari Bung Karno selaian Syaikh Musa Sukanegara Ciamis, KH Abdul Mu'thi Madiun, Sang Alif atau R Sosrokartono Bandung yang terkenal mukasyafah. Ke empat tokoh ini di mintai petunjuknya tentang nasib negeri ini pada 5 bulan sebelum kemerdekaan RI. Dan menurut hasil “bisikan langit” mereka bahwa Indonesia akan terlepas dari penjajah dan memerdekakan diri pada tanggal 9 Ramadhan 1346 H atau 17 Agustus 1945. Dan jika pada saat itu tidak di proklamirkan maka akan menunggu 300 tahun lagi. (Demikian hasil intipan dari beberapa tulisan... heheheh)
KH. Hasyim itu pula yang menggabungkan antara religius dengan nasionalis. Hal ini untuk membentengi dari sikap ketidak berpihakan umat Islam terhadap pembangunan negeri yang udaranya kita hirup dan kekayaannya kita nikmati ini. Sehingga adagium NKRI harga mati begitu melekat di kalangan organisasi yang di dirikan oleh kakek almaghfurlah Presiden RI yang ke empat tersebut. Bahkan dari lagu syubbanul wathon, yang akan di jadikan lagu nasional Mensos yang di karang oleh KH Wahab Hasbullah yang di dalamnya ada kata : “Hubbul wathon minal iman” itu adalah ungkapan dari KH. Hasyim Asy’ari. Maqolah itu bukan hadits, tetapi seruan untuk mencintai negeri dari pendiri ormas terbesar yang mempunyai puluhan cabang istimewa di luar negeri itu.
Akhirnya, meski bentuk gapura di mulut gang itu tidak ada apa-apanya di banding perjuangan mereka, tetapi semoga keteladanan mereka mampu kami contoh. Serta kiriman Yasin dan Tahlil serta do’a tulus kami dapat menghantarkan para syuhada’ negeri ini untuk mendapatkan ampunan Allah SWT. Lahum al fatihah.............
MERDEKA Mulut Gang, Sumberejo Kulon: 8 Agustus 2017
Komentar
Posting Komentar