Anatomi huruf Arab

 

 

Tulisan ini lahir atas dukungan orang yang sangat saya hormati yang juga guru saya, yak ibu Dra Robi’ah Alma. Berawal dari tembok rumah yang saya coret-coret dengan cat warna warni dengan melukiskan mufrodat khat Tsulust Jali dan aku posting dalam status media sosialku. Ya hanya mengikuti kata hati yang telah lama tidak menulis kaligrafi di dinding, maka tembok rumahpun menjadi kanvasnya. Perlu diketahui bahwa khat Tsuluts Jali adalah kaedah penulisan yang paling halus dan tinggi nilainya jika di kerjakan dengan sempurna.  Meski punyaku jauh dari sempurna dan akan banyak koreksi jika di tashehkan kepada para master kaligrafi. Tapi sudah seharusnya hal itu menjadi penghalang untuk terus berkarya. Karena jika menunggu tulisan bagus sempurna baru berkarya, maka akan sama halnya dengan orang yang berniat jika ia sudah mempunyai uang banyak baru bersedekah.

 

Bagi yang ingin menguasai ilmu khat, maka mengerti anatomi huruf-huruf itu sangat penting dan wajib hafal di luar kepala. Hal itu akan menjadi penentu akan menentukan seberapa panjang dan tinggi sebuah huruf. Untuk memudahkan panjang pendek tulisan, maka ada ulama’ khat yang telah merumuskannya dengan menggunakan titik. Semakin besar mata pena yang digunakan maka akan semakin tinggi dan panjang huruf yang di tuliskan. Dengan demikian proporsi tulisan di skala berapapun akan menemukan bentuk idealnya. Hal ini berpijak dari goresan titik untuk menjadi tumpuan pengendalian ukuran tulisan. Maka pada setiap permulaan di pembelajaran khat biasanya anak akan diajarkan membuat titik susun enam berbaris-baris baru kemudian menuliskan alif di sampingnya.  Di teruskan dengan penulisan huruf-huruf lain yang dikendalikan oleh titik.

 

Titik sebagai ukuran penulisan anatomi huruf dirumuskan oleh Ibnu Muqlah, ulama’ khat  yang terkenal dengan Imamul Khathathiin karena dia yang telah detil memberikan ukuran masing-masing huruf dengan ilmu ukur dan geometri yang dia kuasainya. Ibnu Muqlah adalah orang cerdas terpelajar yang hidup di abad 3 hijriyah ini pernah tiga kali menduduki karir yang prestisius sebagai wazir atau pada perdana menteri pada masa kekuasaan bani Abbasyiyah. Ini sebuah kedudukan yang sangat mengagumkan bagi seorang kaligrafer. Sehingga dengan kecerdasan itu dia membuat rumusan-rumusan pada kaligrafi yang dianut hingga sekarang.

 

Untuk penanaman titik sebagai ukuran penulisan anotomi huruf ini para pelajar kaligrafi berkutat setiap hari menggoreskan kalamnya sampai hafal betul bentuk huruf dari ujung rambut sampai ujung kaki. Masih teringat ketika di Pesantren Riyadlotul ‘Uqul Bandung sari Prambon Nganjuk bersama guru kami KH Anwar Sanusi (Allohu yarham). Kami disana bertiga dari pesantren Ngunut yang belajar khat naskhi ke beliau di tahun 90 an. Sistem pesantren itu pak kyai menerima setoran santri yang belajar khat di mulai ba’da Shubuh, Dhuha, Dzuhur dan Ashar.  

 

Hari itu hari pertama saya bersam sangtri lain setoran huruf alif bersama-sama santri yang lain di dalem rumah beliau. Para santri membawa buku hasil berlatih sebelumnya untuk di periksa di hadapan kyai. Satu persatu di teliti oleh kyai sambil mengoreksi goresan santri sambil memberikan menunjukkan kekurang akuratan penulisan, mungkin kurang panjang atau bentuknya tidak sesuai dengan kaedah penulisanya. Setelah di periksan temen-temen berwajah gembira karena di berikan izin untuk menulis huruf setelahnya, yakni huruf ba’. Saya ikut senang melihatnya.


Tiba giliran saya, berdebar-debar rasanya ketika pak kyai memeriksa tulisan saya. Bentuk huruf alif dengan tinggi 5 titik (meskipun menurut Master Syauqi Affandi, Turki itu enam titik) dengan kemiringan setengah titik serta bentuk lancip di ujungnya. Di tulis dengan sejajar dengan alif-alif tidak boleh terlalu merunduk apalagi condong kebelakang. Setelah di periksa sambil di beri komentar tentang tulisan saya, akhirnya pak kyai mengatakan : “ kamu masih menulis alif dulu kang ya”. Lemes rasanya. Sehingga saya belajar menulis alif itu dua hari lamanya. Saya berfikir kenapa tulisan alif saya tidak di luluskan hari itu padahal tulisan saya sudah sesuai denganyang diajarkan (menurut saya hehehe..). Ternyata pak kyai mengajarkan kepada kami bahwa pengetahuan tentang anatomi huruf itu harus diluar kepala. Sehingga itu akan sangat membantu dalam penulisan selanjutnya.

 

Terima kasih kyai, dan guru-guru saya. Aku ada karena seperti ini karena didikanmu...
lahumul fatihah

 

Sanggar Kaligrafi Komar elKhat
3 Pebruari 2021

 

 

Komentar

  1. Subhanalloh...sae sae sanget...mmbedah kekayaan huruf Alqur'an kita. Smbhnuwun ustadz..

    BalasHapus
  2. Pakarnya Khat, terus berkarya pak. Kalau ada kesempatan ingin juga belajar.

    BalasHapus
  3. Allohu Akbar, aku yaqin haqqul yaqin, Pak Qomar suatu saat mengeluarkan jurus andalan dan hasinya luar biasa, buktinya tulisan kali ini, terima kasih membawa nama saya kwik kwik...

    BalasHapus
  4. Allohu Akbar, aku yaqin haqqul yaqin, Pak Qomar suatu saat mengeluarkan jurus andalan dan hasinya luar biasa, buktinya tulisan kali ini, terima kasih membawa nama saya kwik kwik...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku adalah Penulis

Mengenang Guru Mulia bagian 3