Sanad Menulis
Menulis yang telah lama ku tinggalkan dengan berbagai alasan. Meski tidak masuk akal terus saja kupelihara alasan itu. Sehingga motivasi apapun tidak mempan karena pekatnya alasan yang menyelimutinya. Yang lain terus istiqomah meneruskan tradisi baru yang berusaha dibangun oleh mas Ngainun Naim sang mentor yang mempunyai kesabaran tingkat dewa. Terus saja dikasih uswah hasanah dengan membagikan tulisannya untuk membangunkan diriku yang telah lama tidur dengan posisi tiarap sampai sulit untuk bangun lagi. Lagi-lagi akibat selimut alasan tebal itulah yang paling mudah untuk dijadikan alasan di atas alasan.
Di grup WA Ma’arif Menulis itu sebenarnya jauh lebih keren
daripada grup-grup menulis sejenisnya yang banyak di tawarkan melalui pesan
pribadi. Karena di sini sanadnya jelas, orangnya manusia nyata semua dan
sebagian mereka telah akrab dengan kehidupan sehari-hari. Apalagi mentornya
adalah dosen (baca : kyai ) saya di S1 ketika di STAI Diponegoro Tulungagung.
Selain itu juga salah satu pembimbing tidak resmi tesis saya bahkan juga salah
satu dewan penguji pada sidang tesis di UINS SATU yang dulu masih STAIN
Tulungagung. Beruntung beliau waktu itu tidak banyak “membantai” sehingga ujian
tesis itu seperti jagongan di warung kopi meskipun tidak ada kopi yang dapat
kopi sruput bersama-sama.
Di Jum’at siang ini selepas dari kolam sambil menikmati tartilan yang di putar
di masjid tiba-tiba kekangenan menulis itu muncul. Segera aku hidupkan komputer
dan mulailah jari jemariku mengetikkan semua kata yang terlintas dalam benakku.
Receh memang, tapi tidak mengapa untuk kembali memulai menerima tantangan
menulis lima paaragrap setiap hari (hmmm... engkres). Meskipun saya tidak tahu,
apakah semangat ini akan terpelihara terus sehingga istiqomah menerbitkan
tulisan setiap hari apa tidak itu urusan nanti. Yan terpenting adalah, seni
menulis ini tidak boleh munqothi’ karena alasan apapun.
Di dalam grup WA tersebut saya adalah kategori anggota yang
senangnya menyimak, tanpa komen. Sesekali melihat tulisan yang dianggap bagus
dan mengisi komentar di blog yang di share. Selebihnya hanya diam seribu
bahasa. Meskipun berbagai cara untuk membangkitkan gairah menulis ini ternyata
tidak juga kunjung memberikan stimulus untuk menggerakkan hati untuk menulis. Seperti
di bikin daftar menulis wajib dan sunnah, disuruh memilih harinya sendiri. Saya
memilih satu minggu sekali pada saat itu. Jika tidak salah adalah hari Jum’at
juga. Trik jitu lain untuk mendongkrak produksi tulisan dengan sistem centang
hijau untuk yang menulis setiap bulan. Yang namanya menjadi hijau royo-royo
maka merekalah yang paling produktif. Meskipun tidak ada hadianya tetapi cukup
efektif hal itu dilakukan. Dan banyak lagi cara lain yang dilakukan cukup
inspiratif, akan tetapi yang tetap saja diam seribu bahasa la kalam wala
salam. Padahal semua kunci menulis telah diberikan, tinggal ambil kunci, dan colokkan ke pintu menulis, maka akan terbukalah dengan terang benderang
Sebenarnya kegiatan apa saja yang saya lakukan sehingga
beralasan untuk tidak menulis itu?. Tidak
ada yang istimewa. Seperti biasa, kegiatan sehari-hari, mulai dari kolam sampai
kampus, dari bikin jurnal sampai bikin konten video, juga pekerjaan rutin
seperti desain grafis serta kaligrafi. Pada malam harinya banyak waktu luang yang dapat
digunakan untuk menulis. Apalagi jika malam sulit tidur, maka sebenarnya bisa
dicurahkan untuk menulis. Semoga ke depan tetap terjaga semangat untuk
meneruskan tradisi menulis.
Terima kasi Mas Naim yang tak lelah menginspirasi saya untuk
terus bersemangat menulis, Lemah teles gusti Allah sing bales.
Komar elKhat Ngunut
9 Juli 2021
Komentar
Posting Komentar