Turki dan anakku
Negara ini begitu akrab di telingaku, apalagi ketika saya mengampu mata kuliah Sejarah Peradaban Dunia yang menggambar kejayaan Turki Usmani kala itu. Meskipun demikian, tidak sekalipun aku pernah menginjakkan kakiku disana, bahkan tidak terlintas dalam benakku. Karena bagaimana mungkin negara yang jauhnya 12 jam perjalanan dengan menggunakan pesawat ini akan kami kunjungi, tentu dengan biaya yang tidak sedikit. Wong ke Arab Saudi yang wajib bagi yang mampu untuk menunaikan ibadah haji saja belum pernah apalagi ke Turki. Memang saya adalah salah satu orang yang belum pernah ke luar negeri berbeda dengan kawan-kawan saya sejak muda banyak yang pergi ke Malaysia, Brunei maupun ke Arab Saudi untuk bekerja. Dan saya tetap di rumah, makanya saya itu terlihat lebih kurus di banding teman-teman yang lain. Katanya terlalu setia dengan desaku sehingga bobot badan tidak bisa naik.
Belakangan ini negara ini sekarang begitu sangat lekat di hati, karena anak pertamaku, Kak Najwa hari ini sedang menempuh pendidikan di sana. Pada Tanggal 14 Juni 2022 kemarin dia di berangkatkan menuju Dia mendapatkan beasiswa dari pesantrennya UICCI PPTQ Sulaimaniyah Kertosono Nganjuk yang kerjasama antara Indonesia dengan Turki. Dia ditempatkan di PPTQ Sulaimaniyah Asrama Dablak, Kutahya Turki bersama dengan beberapa santri dari Indonesia. Selain dari penduduk asli, juga banyak dari Malaysia, Maroko dan beberapa negara lain.
Pada hari keberangkatannya begitu memiliukan hati, karena kami harus berpisah selama empat tahun lamanya. Bukan waktu yang pendek untuk tidak saling berpelukan seperti sebelumnya. Pada tanggal 12 Juni 2022 anak ini saya antar ke pondoknya untuk terakhir kali. Karena untuk keberangkatan ke bandara, wali santri tidak di perkenankan untuk mendampinginya. Maka hari itu pertemuan terakhir kita sebelum berangkat. Rasanya berat berpisah dengan anak yang begitu ceria, cerdas dan penuh semangat itu. Saya sering memperhatikan wajahnya yang selalu berbinar-binar ketika jagongan dengan temannya maupun saudara-saudanya di rumah.
Dalam perjalanan ke pesantren kami sudah bercerita tentang apapun, bahkan tentang rencana di umur berapa dia dinikahkan. Bercerita tentang ini rasanya saya sudah begitu nampak tua, karena tidak sadar ternyata anak saya sudah besar dan tidak lama lagi juga akan membangun rumah tangganya sendiri. Ketika di tanya tentang kriteria suaminya seperti apa, maka dia katakan “Seperti Ayah”. Ya jelas saja wong ayahnya penyabar dan senangnya ngajak jalan-jalan fikirku sambil tersenyum. Kata-katanya yang ceplas ceplos inilah yang membuatku kangen dan betah berlama-lama dengannya.
Sesampainya di pesantren, barang-barang yang di bawa diangkut masuk, sembari mengambil barang-barangnya yang tidak dipakai di pesantren. Kemudian kami masih ngobrol lama di luar mobil, kemudian di pamitan untuk kembali ke asramanya. Kami memeluknya dengan hati campur aduk antara bangga, bahagia maupun sedih karena dalam waktu lama kita tidak bertemu lagi. Saya peluk dia dalam-dalam dengan ku selipkan doa agar dia mendapatkan ilmu yang manfaat dan barokah. Kemudian dengan senyum khasnya, di beranjak ke pintu gerbang pesantrennya. Rasanya tidak tega, begitu mendekati pintu gerbang dia saya panggil lagi. Saya peluk erat lebih lama lagi. Rasanya tidak ada cukupnya. Sampai akhirnya saya ikhlas melepasnya.
Terus semangat ya kak, abi terus berdoa akan kesuksesanmu. Semoga Allah SWT senantiasa memudahkanmu untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan barokah. Yang dengan ilmu itu sebagai bekalmu mengkhidmahi agama ini. Amiiin...
Nganjuk, 12 Juni 2022

Sukses untuk ananda
BalasHapus