Kisah kewalian Mbah Hj. Djinah Nenek kami
Pada hari Kamis, 6 Syawal 1444 H / 27 April 2023 diadakan Haul dan Halal bi Halal Keluarga Besar Bani H. Musair dan Ibu Hj Siti Rokayah Sumberejo Kulon.
Kali ini kami di perdengarkan cerita oleh H. SHolihiy kakak tertua kami tentang nenek eyang kami yang ternyata bukan orang sembarangan. Salah satu kehebatannya adalah, beliau dapat mengetahui kapan kematiannya, hal ini seperti yang cerita kematian Imam Ghozali. Meskipun bukan kelas kami menyandingkan nenek kami dengan seorang ulama besar, sang profesor di Madrasah Nidzomiyah itu.
Ceritanya begini, ibuk kami Hj. Siti Rokayah adalah putri dari Mbah H. Ngusman dan Mbah Hj. Djinah. Yang kami ceritakan adalah nenek kami yang bernama Mbah Hj. Djinah.
Menjelang wafatnya di tahun 1978 (saat usiaku masih 7 tahun), beliau berpesan kepada anak2nya bahwa beliau akan meninggal pada hari Jumat Pahing dan untuk itu beliau sudah menyiapkan seekor sapi yang di rawat oleh pakdhe Juni anaknya. Orang-orang banyak bertanya2 apakah benar yang beliau ucapkan mengingat usia beliau sudah mencapai 80 tahun lebih.
Beberapa hari menjelang hari Jumat Pahing, ada peristiwa pembunuhan yang menggemparkan desa. Ada tetangga nenek Djinah yang bunuh diri dengan menggunakan samurai yang ditemukan di ladang belakang rumah. Gemparlah desa Purworejo ketika itu.
Sudah menjadi tradisi di desa bahwa jika ada orang kaya yang meninggal maka di sediakan kalakan, yakni sedekah daging sapi dari keluarga yang meninggal untuk para pelayat yang pahalanya di peruntukkan si Mayit.
Karena membeli sapi untuk di sembelih tidak bisa cepat dapat, maka yang dipandang punya sapi dari tetangganya adalah Mbah Djinah itu. Kemudian datanglah utusan dari keluarga yg berduka untuk meminjam sapi untuk di buat upacara kematian orang itu.
Ketika di tanyakan kepada mbah Hj Djinah bahwa sapinya di sembelih untuk kematian tetangganya, beliau menjawab : Lhooo... Lha wong sapi kui arep tak buat persiapan kepulanganku kok"
"Ya wis, jika kamu pinjam tidak apa-apa, aku tak minta tunda Jumat Pahing yang akan datang saja kalau begitu", begitu katanya.
Dan benar saja, sampai Jumat pahing itu beliau masih segar bugar sampai menjelang Jumat Pahing berikutnya. Beliau mengumpulkan anak2nya dan berkata : " Aku sido bali Jumat Pahing iki, aku wis pesen kayu sak cikar, nek buri kae wis enek telo karo lompong kenek gawe fidak an aku" begitu tandasnya.
Setelah masuk sholat Ashar beliau minta di sucikan dan sholat Ashar di tempat tidur. Selesai wiridnya beliau bersedekap dan benar saja beliau wafat pada sore itu.
Paman saya, pak Sufyan kala peritiwa itu sedang di kebun belakang rumah. Di panggil2 tidak kunjung beranjak pulang sampai akhirnya di lempar batu di dekatnya agar perhatian, dan kemudian dia pulang. Sampai rumah, beliau menangis mengetahui nenek mbah Hj Djinah sudah meninggal. Spontan dia berkata : " Mboook... Sampeyan kok ngapusi, jare sebelum mati kon macakne Yasin aku, lha kok aku mok tilapne" (Buk... Kamu kok menipuku, katamu sebelum meninggal kau minta aku bacakan Yasin dulu) katanya sambil menangis tersedu2.
Tiba-tiba ada yang aneh, tangan nenek yang bersedekap itu terlepas, dan mulut yang kaku itu berucap : "Ayo cepet wudhu kalau begitu" . Semua kaget, dan segera anak cucu yang ada di situ mengambil air wudhu dan membacakan surat Yasin untuknya.
Setelah pembacaan Yasin selesai , nenek Hj. Djinah menghembuskan nafas paling akhir dengan tersenyum manis. Dengan wajah berseri-seri pertanda telah ikhlas meramut anak dan cucunya selama hidupnya. Memang wajah mbah Djinah itu putih berseri sampai tuanya.
Saya bersaksi bahwa beliau pasti orang baik. Semoga kami anak cucu, cicit dapat meneladani beliau.
Lahum al Fatihah...
Sumberejo Kulon, 27 April 2023
.jpeg)
Masya Alloh, Alloh yarham, Alfatihah
BalasHapusSubhanalloh... Bunda kerso mampir...
HapusSuwun sanget bund
masyaallah,,,,, amalan beliau ingkang nopo ketawise sg istimewa lan wigati ???
BalasHapusBelum banyak data yg terkumpul, tapi kata cucu yang serumah dengan beliau, sering sujudnya luaaama, begitu tutur nya
Hapus