Memaknai Kemerdekaan
Hari ini genap
75 tahun kemerdekaan negeriku. Peringatan tahun ini nampak berbeda dengan tahun
yang lalu karena wabah ini masih melingkupi ulang tahun negeri ini. Meskipun
demikian warga masyarakat nampak semarak meramaikannya dengan memasang hiasan
di jalan-jalan, baik umbul-umbul, lampu, hiasan warna merah putih serta tidak
lupa bendera yang di pasang di depan rumah masing-masing. Kemeriahan nampak
jelas ketika malam tiba, akan kita dapati lampu berwarna merah putih begitu
benderang menghiasi jalan utama di sepanjang kampung ku. Entah berapa anggaran
masing-masing keluarga yang di gunakan untuk menghormati dan mengenang jasa
para pahlawan yang telah syahid untuk menghantarkan bangsa ini menjadi seperti
sekarang ini.
Jika bukan
masa pandemi seperti ini tentu luapan kemeriahan tentu tidak tertahankan lagi. Berbagai
kegiatan di helat, baik kegiatan yang benar-benar membangun baik dari sisi
pendidikan maupun pengembangan bakat melalui adu kreatifitas maupun kegiatan
yang yang hanya mengesankan hura-hura dan menghambur-hamburkan uang saja. Tidak
bermanfaat bahkan hilang dari essensinya dalam memaknai kemerdekaan. Perayaan
yang sarat manfaat dan pesan moral misalnya, pelaksaan upacara beserta pemilihan
petugas yang sampai tingkat nasional, perlombaan ajang kreatifitas seperti
lomba menulis, mendesain logo, fashion, karnaval dan berbagai perlombaan yang
mengandalkan keahlian dan kemahiran peserta lomba.
Akan tetapi
banyak juga perayaan yang perlu di perhatikan kemanfaatannya, seperti tontonan
hiburan musik yang mempertontonkan aurat penyanyi yang juga dilihat anak kecil.
Atau juga sebagian konten karnaval yang kurang mendidik, seperti yang pernah
saya protes keras ke pemangku desa kami tentang hal itu. Di situ ditampilkan satu
peleton barisan muda-mudi yang memakai pakai seragam SLTA nampak jelas dari bed yang menempel di sak
bajunya. Pakaian mereka penuh dengan coretan cat di baju dan rambutnya. Yang perempuan
pakai rok mini yang kurang lengkap dengan sepatu dikakinya. Mereka berjoget
ajeb-ajeb seperti orang mabuk dengan musik dari sound yang di pasang di kendaraan
depan yang begitu menggelegar dengan lagu-lagu seperti di diskotik. Ironisnya hal
ini tidak saja dilihat oleh orang dewasa akan tetapi banyak anak-anak yang juga
mengamati kelakuan ini.
Kemerdekaan ini
adalah hadiah Alloh swt yang paling berharga bagi bangsa ini yang belum tentu
semua negara memilikinya. Tebusan ribuan nyawa telah di darmabaktikan demi bisa keluar dari cengkeraman bangsa
penjajah yang telah beranak pinak di negeri ini. Mereka terlalu lama berada di
negeri ini untuk menguras habis semua kekayaan dan jiwa raga bangsa ini demi
memenuhi kerakusan dan ketamakan mereka. Maka mengusir mereka menjadi kewajiban
semua jiwa bangsa agar negeri ini bisa tegak berdiri bersama bangsa lain. Akan tetapi
perjuangan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Jalan begitu panjang
dan berliku, serta kesabaran yang tiada batas demi sebuah cita-cita luhur itu.
Sekarang
kemerdekaan telah tercapai, jangan terlena akan dengan pada perayaan saja tetapi
melupakan untuk mendoakan atau sekedar kirim Surat Al Fatihah untuk para
syuhada itu. Karena mereka tidak menikmati itu semua kecuali do’a dan kiriman
amal baik kita untuknya.
Ila hadroti
syuhada’ bialadina.... lahum al fatihah....
Sanggar
KOMAR ELKHAT, 17
Agustus 2020

Amin.
BalasHapusAamin..m
BalasHapus