KOPI HITAM DI TENGAH SIDANG SKRIPSI

 


Ngopi adalah istilah untuk orang Jawa yang ketika nongkrong bareng sambil minum kopi. Kopi menjadi favorit di banyak warga termasuk saya untuk mengawali hari agar lebih bersemangat dalam menjalankan aktifitas hari. Kandungan kafeinnya menambah energi setiap selesai menyeruput kopi panas diantara makanan pendamping yang masih hangat. Tak terkecuali hari itu, rekan kami yang biasa kami panggil yu Zur menghidangkan secangkir kopi dari gelas “klangenan” (baca: kegemaran) ku yakni cangkir puthul alias yang telah patah gagangnya. Bagi saya minum kopi dengan cangkir, mug atau yang lain tanpa cangkir serasa ada separuh yang hilang dari rasa kopi. Maka tidak aneh jika saya pergi kemana-mana selalu berpesan kepada istri untuk dibawakan kopi, gula beserta cangkir untuk menyeduhnya. Air panas bisa dicarikan waktu perjalanan

 

Hari itu  saya berkesempatan menjadi salah satu penguji pada sidang skripsi kampus paling keren karena berada di jantung kota Tulungagung ini. Bersama saya di meja satu, Dr. H. Sukarji dan Dr. Ali Sodik, M.Pd.I diamanati untuk menguji 20 mahasiswa. Sidang di mulai pagi dengan stamina yang masih cukup luar biasa untuk membombardir pertanyaan-pertanyaan kepada mahasiswa tentang kesadaran mereka terhadap apa yang di teliti. 

 

Dua puluh mahasiswa bukan jumlah yang sedikit. Jika estimasi waktunya tiap mahasiswa 30 menit maka harus marathon menguji selama 10 jam tanpa henti. Belum lagi jika menemui skripsi mahasiswa yang terkesan di paksakan untuk ujian. Jadi banyak kekurangan baik dari sisi penulisan maupun kontennya. Apalagi jika salah masih ngotot mempertahankan argumentasinya yang kadang bikin geli karena yang penting berani saja.  Tetapi begitulah mahasiswa, memang di didik berani berbicara tetapi tentu karena ruangan ini adalah adalah ujian ilmiah maka argumentasi harus berdasarkan kajian ilmiah. Tidak asal ngomong apalagi debat kusir dengan penguji. Beruntung mahasiswa-mahasiswi STAI Diponegoro kebanyakan para santri alumni pesantren ataupun madrasah, jadi mengedepankan akhlak dalam setiap sesi tanya jawab dengan penguji.

 

Di sela-sela kejenuhan dan kadang rasa kantuk yang menghampiri itu masuklah yu Zur dengan dengan kopi hangatnya yang menggoda selera. Secangkir kopi dengan cangkir puthul. Cangkir itu saya bawa dari rumah untuk saya pakai jika ingin ngopi di kampus bersama teman yang lain. Meskipun saya berhenti merokok semenjak punya anak satu tetapi untuk menghentikan kopi serasa berat. Sudah melekat kedalam jiwa.

 

Saya senantiasa bersyukur masih diberikan nikmatnya kopi. Karena banyak dari teman-teman saya yang sudah menghindari minuman berwarna hitam dari surga ini. Menurut kesimpulan saya, bahwa orang yang suka kopi itu menandakankan lambungnya masih sehat dan aman. Jika lambung seseorang aman itu menandakan pikiran dan stressnya dapat dikendalikan dengan baik. Artinya dia orang yang nyantai menghadapi masalah kehidupan. 


Monggo di sruput kopinya....


STAI Diponegoro, 25 September 2021


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku adalah Penulis

Mengenang Guru Mulia bagian 3