Masjid dan yang memakmurkannya



Pagi itu ada tamu dari saudara yang menjadi takmir masjid kakek kami  sementara peserta sholat Jumat lebih dariku bahkan mungkin ada wali mastur yang tidak di ketahui oleh yang lain. Tetapi jika amanah telah datang, maka bismillah dengan niatan mencari ridho Alloh swt dan niatan ndandani awak, akhirnya aku terima (dengan hati menangis...)

Haji Usman tempat ibuku dulu di besarkan. Dia meminta saya untuk menjadi salah satu petugas Jumat menggantikan kakak saya yang fokus pada masjidnya. Disini aku merasa tidak enak hati, karena mesthinya Imam Jumat itu adalah orang yang bersih, suci dan putih cemerlang. Sementara aku? Masih banyak diliputi dosa baik yang kasat mata maupun dosa akibat kebodohan diri sehingga berlaku suul adab dengan Tuhan. Hanya karena Alloh SWT mempunyai sifat Al Ghoffar, Yang Maha Menutupi, sehingga aib-aib hambanya di tutupi dengan kemahasucian dan kasih sayang-Nya. Saya merasa kecil sekali dan tidak ada artinya apa-apa,

Ada joke dari teman teman bahwa jika kita ini semakin di percaya orang untuk mengambil peran seperti tokoh tokoh itu maka hal itu menunjukkan bahwa usia kita telah semakin tua. Tidak mesthi karena kita hebat sekelas mereka, tetapi karena tidak ada lain lagi yang di pandang. Maka pepatah Jawa mengatakan dengan istilah kucing-kucing diraupi maka peran itu aku ambil karena bagaimanapun tempat ibadah ini adalah peninggalan kakekku, H. Usman. Sebenarnya jika boleh memilih sebenarnya saya pengen menjadi orang bebas yang masjidnya di mana dan bisa shola dimanapun tempat yang disukai.

Teringat sebuah hadits yang ketika masih duduk di Madrasah Aliyah dulu yang menjadi menu wajib untuk di hafalkan dihadapan guru. Yakni tentang tujuh orang yang akan mendapatkan perlindungan Alloh SWT di mana tidak ada perlindungan kecuali perlindunganya. Salah satunya adalah رجل قلبه معلق فى المسجد  yakni laki-laki yang hatinya di gantungkan ke masjid.  Selalu memikirkan bagaimana masjidnya bias bermanfaat lebih banyak kepada masyarakat.
Semoga Alloh swt membimbingku dalam niat dan menjaga hati ini dari sifat jelek yang membakar pahala amal seperti kayu bakar.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku adalah Penulis

Mengenang Guru Mulia bagian 3