Pendekar itupun menangis




           Mas Obeth, demikian kami menyebut anakku yang kedua itu. Sekarang dia di pesantren setelah mengenyam pendidikannya di MI selama enam tahun. Dia dikenal sebagai laki-laki kuat yang punya fisik bagus, terbukti dia banyak dikirim madrasahnya untuk mengikuti perlombaan yang bersifat fisik. Dia pernah memenangkan lomba lari Gala Desa tingkat Kabupaten yang di selenggarakan di awal memasuki kelas enam.  Tubuhnya berkembang lebih kuat karena mendpat pembinaan pencak silat di madrasahnya. Dan latihan ini juga yang menjadikan dia memperoleh piala juara satu pencak silat di kelasnya dalam rangka Hari Santri Nasional yang dilaksanakan di kecamatan Campurdarat Tulungagung.

           Menghantarkan dia sampai disini saja perasaan ini dipenuhi dengan penuh kekhawatiran dan kecemasan karena pengaruh lingkungan serta gadget yang semakin akrab setiap harinya. Kami bersyukur akhirnya dia mau menerima taqdirnya untuk tholabul ilmi di pesantren. Diskusi kami tentang taqdirnya sangat panjang karena kami mulai semenjak dia masih kecil, dan di ulang-ulang selama dia menempuh pendidikan MI. Terus kami yakinkan bahwa tradisi di keluarga ini ketika anak menginjak usia SMP harus ta’allum dan belajar hidup mandiri di pesantren.  

           Selama sepuluh hari pertama dia lalui di pesantren tanpa boleh di telpon apalagi di jenguk oleh orang tuanya. Memang aturan di pondok itu jika orang tua memaksa ingin menemui anaknya maka harus di bawa pulang sekalian agar sterilisasi di pesantren masa pandemi ini tetap berjalan. Dan waktu telpon itu tiba. Kami bersemangat untuk menelponnya melalui nomor pondok yang diberikan ketika bersamaan dengan datang di pondok pertama kali. Ada perasaan haru dan penasaran ingin mengetahui kabarnya dengan kehidupan barunya. Ternyata dia sangat minimalis dalam berbicara di telpon.  Tidak seperti kakak perempuanya yang di Jember ketika diberi waktu 2 jam untuk telpon setiap minggunya maka durasi itu dihabiskan dengan bercerita banyak hal selama seminggu itu. Sehingga pembicaraan itu akan berakhir jika gurunya telah memintanya untuk mengumpulkan HP nya. Tetapi dia menjawab pertanyaan itu dengan singkat-singkat saja. Kamipun menjadi terharu ketika dia sudah mau menggunakan bahasa jawa halus dalam percakapan itu.

          Pada sebuah pertanyaan tentang apakah dia menangis ketika di awal di pondok? Ternyata dia sering menangis di masjid karena dorongan perasaan kangennya dengan rumah dan teman-temannya. Sama seperti saya dan anak pondok lainya yang menangis dengan perasaan sakit karena ada peperangan di lubuk hati antara bertahan di pesantren atau menuruti hawa nafsunya untuk kembali ke rumah. Perasaan haru itupun pecah bercampur tawa yang sambil membayangkan ternyata seorang pendekar bisa juga menangis. Tetapi itu lebih bagus daripada nanti saya yang menangis di kemudian hari karena dia tidak menjadi apa-apa dan tidak mengambil bagian dalam perjuangan bagi umat. karena saya menaruh harapan akan masa depannya serta masa depan kami di hari pertanggung jawaban kelak.
Semoga Allah SWT memudahkan jalannya, dan memasukkan dia di kategori hadits
 من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة
Sehingga nanti akan menjadi pembela orangtuanya kelak di hari perhitungan. Amin



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku adalah Penulis

Mengenang Guru Mulia bagian 3