Membangun kemandirian warga Nahdliyin di kecamatan Ngunut

Ngunut itu adalah kecamatan yang
berada di 12 km sebelah selatan kota Tulungagung. Kota kecil ini terkenal
dengan banyak tempat karena warganya yang kreatif dalam membuat berbagai hal. Jika
anda berkunjung kesini maka akan banyak di jumpai home industry yang membuat
berbagai hal mulai dari kelengkapan peralatan dapur, rumah maupun kendaraan. Banyak
pasokan perdagangan di Surabaya yang ternyata buatan orang Ngunut kemudian
dilabeli oleh mereka maka seakan-akan produk mereka. Ini potensi luar biasa yang dimiliki oleh kota
kecil dengan jumlah penduduk hampir sembilan puluh ribu berdasarkan data statistik
BPS tahun 2018.
Warga Nahdlatu Ulama’ banyak
jumlahnya di sini. Kegiatan majelis taklim, istighotsah, sholawatan dan pengajian
kecil maupun berskala besar sangat mudah ditemukan di sini. Sholawat Gus Shon itu
sangat sering digelar di sini. Belum lagi kegiatan-kegiatan besar yang lakukan
oleh pondok Ngunut bersama cabang-cabangnya seperti kegiatan tahunan Haul Pendiri
Pondok Ngunut. Ribuan masyarakat tumpah ruah untuk hadir ikut berdoa dan
mengambil berkah dari kegiatan tersebut. Ini sebagai penanda bahwa warga
nahdliyin banyak tersebar di kota kecil ini. Ya memang setelah negeri ini
terserang wabah ini semua menjadi berhenti. Hanya makan dan aktifitas lainya
yang tidak boleh berhenti.
Potensi warga NU banyak yang belum
tergarap dengan baik oleh lembaganya sendiri. Sektor ekonomi misalnya. Banyak hal
yang bisa dimulai untuk membangun sektor ekonomi mulai dari yang skala kecil maupun
besar. Kita mengimpikan jika NU mempunyai toko besar yang dapat dijadikan
tempat rujukan belanja warganya. Belanja di situ sama dengan ikut memberikan geliat
keberlangsungan NU dan kegiatanya. Tidak harus besar dulu, misalnya toko ini
menyediakan kebutuhan bahan makanan pokok dengan harga grosir. Bisa juga dengan
memenuhi kebutuhan untuk kegiatan hajatan bagi warganya dengan membayar setelah
kegiatan hajatan selesai. Hal ini bisa membantu wargan nahliyin yang kesulitan
pendanaan dalam penyelenggaraan kegiatanya. Hal ini menarik sekali.
Selain tempat belanja juga dapat untuk
menampung hasil produksi warga nahdliyin sehingga saling menguntungkan bersama.
Hal ini penting kita lakukan agar warga Nu bisa memikirkan keberlansungan jam’iyahnya
sebagaimana para muassis dulu yang mengadakan kegiatan dengan uang mereka sendiri.
Warga tidak secara langsung mengeluarkan uang, tetapi dengan belanja di
toko-toko NU atau di toko warga NU maka sama dengan mereka telah ikut
memikirkan kelestarian jamiyah ini.
Karena sekarang dalam persaingan
perdagangan yang semakin ketat ini, warga NU banyak yang tidak lagi peduli dia
mau belanjakan uangnya kemana. Banyak yang belanja di supermarket maupun mini
market dengan alasan lengkap dan bergengsi yang bukan milik warga NU. Apakah yang demikian ini labanya akan mengalir untuk
jam’iyah ini? Tentu tidak. Masih mending belanja di warung tetangga saja,
karena orangnya jelas dan jika kaya kan untuk kecukupan keluarga dan kebutuhan
anak-anak mereka.
Kita tidak kekurangan tenaga yang
tangguh dan mampu di bidang ini. banyak kalangan muda yang bisa digerakkan untuk menggarap bidang ini. Dan masalah publikasi akan banyak di jumpai, bisa melalui
selapanan yang diadakan NU berserta banom-banomnya yang diadakan pada setiap
bulannya. Belum lagi pengajian-pengajian yang diselenggarakan oleh Madrasah Diniyah,
Pesantren maupun TPQ yang juga tidak kalah banyaknya. Pun demikian kegiatan di
sekolah-sekolah di bawah naungan LP Ma’arif.
Warga perlu di sadarkan pentingnya
berorganisasi yanga baik, sehingga tanggung jawab ini menjadi ringan jika di
pikul bersama. Jika semuanya maju, maka kemandirian Nahdlatul Ulama di
kecamatan Ngunut akan segera nyata di rasakan.
Wallhua’lam
Sanggar Komar elKhat
24 Juli 2020
Komentar
Posting Komentar